seseorang yang berbeda paham mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar, dan meluapkan kebenciannya kepada sang guru. sang guru hanya diam, mendengarkan dengan sabar, tenang dan tidak berkata sepatah katapun.
murid guru pun bertanya, "mengapa sang guru diam saja tidak membalas makian itu ?"
sang guru bijak berkata, "jika seseorang memberimu sesuatu, dan kamu tidak mau menerimanya, lantas menjadi milik siapakah pemberian itu ?"
"tentu kembali menjadi milik si pemberi. begitu pula dengan kata-kata kasar dan makian tersebut, akan kembali menjadi miliknya. dia harus menyimpannya sendiri." sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya, ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.
dia tidak menyadari bahwa nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia maupun akhirat, karena energi negatif yang muncul dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.
jika di luar sana ada orang yang marah-marah kepadamu, biarkan saja karena mereka sedang membuang sampah hati mereka (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, ...).
* jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi bila engkau menanggapi berarti engkau menerima sampah itu.
maka demikianlah nasehat sang guru,
^ jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil
^ jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci
^ jika engkau tak dapat menghibur, janganlah membuatnya sedih
^ jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat
^ jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina
^ jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan
mari melatih diri untuk membuang sampah yang ada di hati kita... inilah saatnya
#anonymous
No comments:
Post a Comment