Ketika aku ingin sekali jujur atas rasa yang aku punya. Saat aku ingin menyampaikan bahwa aku juga tidak bisa hidup tanpamu, entah kenapa mulutku terkunci begitu saja. Aku tak mampu untuk mengatakannya, apalagi saat aku lihat kamu bahagia dengan orang lain, semakin menambah kalut diriku, apakah aku harus menyampaikan perasaanku atau tidak.
Namun kurasa, mungkin lebih baik bagiku untuk mundur saja dan biarkan perasaan ini menjadi rahasia antara aku dan Tuhan.
Mungkin sudah harus menjadi suatu jalan yang ku lalui dan kenyataan yang harus ku terima bahwa kamu bukanlah orang yang ditakdirkan untukku. Kamu akan lebih bisa dan lebih bahagia jika bersama orang lain. Dan akupun akan menerima itu dengan ikhlas. Aku tidak akan memaksakan kehendakku untuk memilikimu karena aku tahu itu hanya akan melukaimu.
Namun sebelum kamu benar-benar pergi dari hidupku, biarkan aku memelukmu lebih erat dan jangan tanya kenapa, karena aku tak akan sanggup mengatakan bahwa sebenarnya aku mencintaimu.
Biar Tuhan yang tahu betapa besar cintaku kepadamu, hingga aku memilih ikhlas untuk tidak kamu pilih.
Aku sadar bahwa tak mungkin jika rasa yang ku miliki selalu berbalas, pasti ada yang akan menyakitiku. Dan rasa cintaku membuatku memilih pergi agar kamu bisa merasakan kebahagiaan itu.
Jangan tanya kenapa, cukup diam dan biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya. Biarkan aku meluapkan rasa cintaku sekali saja.
Hanya diam, jangan menolak, ini satu-satunya permintaanku kepadamu. Biarkan aku memelukmu, biarkan aku meluapkan segala perasaan yang aku miliki. Biarkan aku menangis dipundakmu meskipun hanya setetes, karena aku tak akan mampu mengatakan apapun kepadamu.
Hidup memang tak selalu apa yang diharapkan, jadi aku hanya tersenyum menyiratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Di balik senyum yang paling manis itu tersimpan kisah yang tak ingin terungkapkan.
No comments:
Post a Comment